Pemakaian drugs / obat-obat doping dalam
fitness dan binaraga semakin marak. Artikel ini bukan untuk mengutuk tindakan
tersebut. Tetapi artikel ini dibuat untuk memberikan reportase FAKTA tentang
apa yang selama ini sudah terjadi di lapangan, dan edukasi ilmiah tentang
konsekuensi nyata yang harus dihadapi apabila menggunakan obat-obat doping
tersebut.
Drug-dealers kerap menampilkan
argumen-argumen dalam tulisan tebal di bawah. Mohon diingat bahwa ulasan dalam
artikel ini memuat fakta-fakta yang tidak ingin mereka beberkan karena motif
yang kita sama-sama ketahui.
1. Yang sakit dari pakai steroids sedikit
banget! Itupun karena mereka bego memakai steroids tidak sesuai aturan. Kalau
sesuai aturan pasti ga akan kenapa-napa.
Ironi 1: Pemakaian steroids sendiri
sudah merupakan pelanggaran aturan. Karena secara fisiologi, tubuh manusia
terutama di usia muda dengan kadar hormon yang masih optimal, TIDAK MEMBUTUHKAN
steroids sama sekali. Selain itu, dalam ajang kompetisi olahraga, pemakaian
steroids juga melanggar peraturan.
Ironi 2: Penentuan apakah seseorang
perlu mendapatkan steroids secara legal, adalah melalui prosedur diagnosa oleh
dokter spesialis hormon (endokrinologis) melalui cek darah yang menyeluruh. Dan
apabila terjadi kekurangan dari normal (yang biasasnya adalah pasien di atas 45
tahun), dokter akan menentukan dosis steroids yang sesuai untuk membawa ke
level normal.
Dosis yang diberikan dokter tergantung
seberapa jauh level hasil tes dari level normal. Prosedur / aturan medis
seperti ini dapat dipastikan tidak pernah dijalankan oleh drug-dealers dari
proses perkenalan sampai proses transaksi terjadi. Di samping itu, dosis yang
diberikan dari satu konsumen ke konsumen lain umumnya adalah sama
yaitu
minimal 5-10 x di atas dosis yang diberikan dokter, pada pemakai yang kadar
hormonnya sedang optimal.
Ironi 3: Aturan yang diberikan oleh
drug-dealers adalah untuk menggunakan lebih banyak ragam obat lagi. Secara
fisiologi, peningkatan 1 jenis hormon akan memicu serangkaian respons di dalam
sistem hormonal tubuh. Seperti 1 gerbong kereta api yang keluar jalur, maka
akan mempengaruhi gerbong lainnya.
Untuk mengatur atau lebih tepatnya
memaksa gerbong-gerbong (hormon-hormon) lain untuk tidak keluar jalur, maka
diperlukan beragam obat lain untuk mengendalikannya. Contoh, tubuh menjaga
rasio yang seimbang antara hormon testosteron (hormon pria) dan hormon estrogen
(hormon wanita) pada tubuh setiap orang.
Masuknya steroids yang notabene adalah
testosteron buatan, mengisyaratkan tubuh bahwa rasio keseimbangan hormon
tersebut sudah terganggu (karena hormon testosteron meningkat drastis),
sehingga memicu tubuh untuk meningkatkan produksi hormon estrogen untuk menjaga
rasio seimbang tersebut.
Berhubung estrogen adalah hormon wanita
yang tidak diinginkan dalam proses pertumbuhan otot (selain memunculkan dampak
samping pembesaran kelenjar payudara pada pria), maka logikanya adalah estrogen
perlu ditekan / kendalikan dengan 2 upaya, yaitu: menggunakan obat yang menekan
produksi / konversi estrogen (anti-aromatase), dan menggunakan obat lain untuk
melemahkan aktivitas / sinyal estrogen yang sudah ada (estrogen blocker). Di
mana obat-obat tersebut adalah obat untuk wanita penderita kanker payudara,
kini dipakai oleh pria muda sehat jasmani yang ingin menaikkan ototnya.
Ironi 4: Bahwa steroids bersifat
racun bagi tubuh. Ada teori yang mengatakan steroids dalam bentuk tablet lebih
beracun daripada steroids dalam bentuk suntikan. Mengingat suntikan memerlukan
tehnik / ahli khusus (dokter), maka selain berupaya mencari dokter yang mau
menyuntikkan (yang berarti melibatkan dokter tersebut dalam malpraktek), juga
berusaha mempelajari tehnik suntikan sendiri. Pun setelah semua itu bisa
dilakukan, steroids dalam bentuk suntikan harganya jauh lebih mahal daripada steroids
dalam bentuk tablet.
Atlet binaraga yang biasanya memiliki
budget terbatas akan cenderung memilih menggunakan tablet karena harganya yang
lebih murah. Jadi ditambahkanlah aturan baru lagi yaitu:
* PCT (Post cycle therapy) penghentian
pemakaian untuk menormalkan kembali sistem endokrin (produksi hormon) dalam
tubuh, dengan serangkaian obat yang berbeda.
* Penggunaan suplemen, herbal / jamu untuk
menjaga organ hati (liver) yang terkena dampak paling keras dari racun-racun
dosis tinggi tersebut.
Ironi 5: 80% steroids yang diedarkan
dengan cara seperti ini adalah steroids black market, yang meskipun adalah
steroids, tetapi:
* Diproduksi dalam industri rumahan, tidak
mengikuti ATURAN produksi obat berstandar GMP (good manufacturing practices)
pabrik obat.
* Jadi intinya, dari kadar steril
(hygiene) hingga standarisasi kandungan per butir / mililiter sangat
dipertanyakan.
* Merupakan versi palsu dari aslinya.
Teknologi pemalsuan juga sudah melibatkan peniruan label stiker, kotak kemasan,
bentuk botol, hingga ke hologram yang identik dengan aslinya. Sehingga sulit
sekali untuk membedakan mana yang asli dan yang palsu.
2. Umur 25-30 tahun hormon kita juga sudah
turun.
Menggunakan klaim para dokter anti-aging,
bahwa hormon kita mulai turun di usia 25-30 tahun (yang kebetulan adalah
kelompok target market terbesar dari penggunaan steroids), maka adalah wajar
menggunakan steroids. Klaim dokter anti-aging tersebut adalah berdasarkan studi
terhadap orang-orang yang sedenter (tidak berolahraga / mengatur pola makan).
Ironinya: Member fitness center yang
dirayu para drug-dealers ini adalah orang-orang yang minimal berolahraga
teratur, sehingga tidak masuk dalam kategori studi di atas. Lagipula lebih
banyak studi yang mendukung fakta bahwa selama kita berolahraga dan memiliki
pola makan baik yang teratur, maka kondisi hormonal kita tidak akan mengalami
penurunan yang signifikan, dan selama kita menjaga rutinitas berolahraga dan
pola makan yang sehat, kadar hormon kita akan terus berada dalam rentang normal
untuk puluhan tahun mendatang.
3. Kalau mau natural, mau sampai kapan?
Kamu percaya semua yang claim juara natural benar-benar natural?
Tehnik menciptakan keraguan ini juga cukup
berhasil, dan menjadi salah satu rayuan dengan tingkat keberhasilan yang
tertinggi. Ditambahkan dengan beberapa point penguat mereka:
* Yang mengkampanyekan agar atlet tidak
menggunakan drugs adalah orang yang menggunakan drugs paling banyak. Ia tidak
ingin dikalahkan oleh pendatang baru.
* Saya tau stack (ragam obat) yang
digunakan oleh si-ini dan si-itu yang mengaku natural. Bahkan selama ini dia /
mereka sering beli dari saya.
* Kalau mengaku natural mah gampang,
karena drug-test bisa ditipu pakai tehnik tertentu. Itu yang namanya munafik,
make tapi ga mau ngaku.
* Lagian kita semua sudah dewasa, kita
yang ambil keputusan masing-masing. Itu hak azasi kita, bukan orang lain yang
nentuin kamu boleh pakai atau tidak. Saya cuma nawarin sudut pandang baru, jadi
ga cuma dengar dari 1 pihak. Setelah dengar dari 2 sisi dan menimbang, kamu
sendiri ambil keputusan.
* Sekarang semua sudah pake. Kalau kamu
ga pakai, lupain aja mau jadi juara. Jangan naif!
* Di Amerika aja pemakaian steroids ga
bisa dicegah dan ga bisa dihentikan! Jadi jangan sok hentikan pemakaian dan
penyebaran steroids di Indonesia.
Ironinya: Seluruh pernyataan ini
mengarahkan obyek untuk terprovokasi mencoba. Tidak ada fakta yang ditampilkan
di sini untuk mendukung apa yang mereka ucapkan. Padahal merupakan fakta bahwa
nama-nama atlet drug-free yang dituduhkan seringkali ditunjuk dalam random
drug-test di mana tidak mungkina ada persiapan apapun yang bisa dilakukan untuk
menipu test tersebut, karena dipanggil mendadak pada hari itu atau didatangi
oleh tim pengoleksi urine. Dan atlet-atlet drug-free tersebut selalu terbukti
lulus tes.
Dan pada saat si obyek telah menjadi
pelanggan setia, suatu hari nanti si obyek terkena masalah kesehatan, dealers
tersebut mudah berkelit (cuci tangan) mengatakan Kan dari dulu saya sudah
bilang, kamu sendiri looo yang pilih untuk mau pakai dan sudah saya kasih tau
konsekuensinya (padahal mungkin tidak pernah dikasih tau). Kalau mau pakai
harus sesuai aturan.
Dan saat seorang pelanggannya tewas
(seperti yang terjadi pada salah satu juara binaraga yang langsung koma 9 hari
dan tewas kurang dari 8 bulan yang lalu), maka dengan mudah disalahkan ke
pelanggan itu sendiri dengan pernyataan-pernyataan (melalui thread di forum
maupun diskusi langsung dengan keluarga saat atlet tersebut koma di UGD):
* Ooo
.itu mungkin faktor keturunan.
* Lagian dia habis tanding langsung makan
kambing dan pesta miras. Matinya karena makan sate kambing dan pesta miras.
Bukan karena drugs.
* Dia memang 2 bulan yang lalu pernah
kecelakaan di kepala, jatuh dari motor. Jadi itu mungkin penyebabnya.
Mulailah dengan komunikasi diri yang lebih
baik, bahwa kita memiliki mental YES, I CAN dengan cara drug-free. Bahwa
hasil binaraga tubuh yang terlihat sehat kuat di luar, seyogyanya selaras sehat
dan kuat juga di dalamnya, secara organ internal, maupun secara rohani dan
tanggung-jawab moral.
Seorang sahabat yang baik tidak akan
menawarkan obat doping kepada kita sebagai solusi meraih otot secara instant.
Hindari perdebatan, dan kokohkan prinsip mengutamakan kesehatan daripada
penampilan instant. Sebaliknya, ia akan peduli pada kebaikan kita dengan
menasehati agar tidak mendekati obat doping tersebut.

No comments:
Post a Comment